15/06/2017

ز, serta sepasang telinga

1.

Bello

Kau adalah bunyi burung yang menyapa sebuah taman di waktu pagi.  Kau adalah suara sepasang tangan kekasih yang berpimpinan.  Kau adalah getar kegembiraan atas penglihatan pertama dari pesakit yang kesembuhan buta.  Senyumanmu adalah suatu keputusan yang muktamad. Kau adalah kasih sayang yang bergema setelah aku kautitip masuk ke dalam rumah hatimu.  Kau adalah hujan keindahan yang lebat.  T’lah menjadi Tabut dadaku sebab terkumpulnya begitu banyak khazanah kecantikkanmu.

Aku merasakan bahawa aku adalah lelaki yang paling kaya di mukabumi.


2.

Occhi

Lihatlah pergerakan tanganmu, lekukan bibirmu setiap kali kita melihat satu sama lain.  Kau suka melihat mataku  – aku cinta pada keterpesonaan kau pada mataku.  Tahukah kau betapa mata ini ingin menciptakan kebahagiaan yang maha besar untukmu?  Mengertikah kau betapa mata ini ingin melihat kita sama-sama dewasa dan menukang pelangi terindah setelah hari-hari hujan yang kita lalui?

3.

Orecchie

Kau menyanyikanku lagu dari bunyi-bunyi sungai.  Setiap kali setelah petir, kau menuliskanku melodi-melodi yang baru.  

4.

Senso

Kelak pasti aku akan menjadi tua dan mataku berubah buta.  Tapi dari suaramu kau memberi petanda bahawa pendengaranku akan abadi selama-lamanya.

01/05/2017

Cub & Flowers

in the morning I hear the rain
I looked out the window
and I see the pavements
're covered with water
even the roads 're wet
and the trees look live-lier than ever
I couldn’t see the sunlight
I believe it was hidden
behind the heavy cloud,
and then I think of u
your glories, your stories
your hopes
your lips, your eyes, your chest,
our travelling plan
and how I love seeing the way your teeth were arranged -- to match the sunshine in your eyes;
why wont you know?
that you’re the shy epitome of prettiness,
that one outstanding sunflower
every farm must have,
& you’re also like;
that one sentence of a song
every lovers fallen in love to

 O’, floret,
on this raining morning I must say thank you
for bringing the definition of beauty
the way I never understand it before

17/04/2017

Surat-surat

I wandered lonely as a cloud
That floats on high o'er vales and hills,
When all at once I saw a crowd,
A host, of golden daffodils;
Beside the lake, beneath the trees,
Fluttering and dancing in the breeze.

― William Wordsworth, I Wander’d Lonely as a Cloud




Melihatnya: 
Muzikmu seperti bunyi yang damai.  Seperti alir sungai yang lebih bising dalam musim hujan yang bersuara.  Kau menggelarnya sebuah ketenangan yang turun merusuh, seperti sehelai pena yang majnun menulis puisi.  

Pemandangan: 
Dan dari satu sudut, Bede BD5 menjadi perjamuan mata di hujung langit.  Kita seolah-olah berada di sepuluh abad yang lalu, ketika buku-buku mempunyai bau kulit kuda, atau ketika serenade mempunyai nilai yang sama tara denganseuncang emas.  

Engkau: 
Dari tepi jalan laluan ke café  kulihat pantulanmu di setiap yang berkaca,  kau dengan gaun merah yang baru, dan senyum yang lebih biru dari hari senja – hari-hari akan kutanyakan tentang harimu: ‘how are you today?’

Pertanyaan: 
‘Engkau mempertanyakan soalan itu kepadaku hari-hari tanpa bosan, dan aku akan selalu memberi jawapan yang sama – my day is fine as everyday.  Ini adalah jawapan hari kelmarin.  Esok juga akan kuberikan jawapan yang sama.  Apa kau tidak lelah?’

R: 
Sebenarnya aku tidak tahu cara yang lebih ikhlas untuk mencintaimu, selain bertanya khabarmu setiap hari.

03/03/2017

Surat Qaisy buat Teman Lelakinya, Zayd

Zayd,

Aku tidak pernah melihat pagi yang se-mendung pagi ini. 
Angin bertiup lembut sejak dinihari,
mengisi bolongan kosong antara bulan dan pohon-pohon malam. 
Seakan-akan bunyi rintik hujan yang belum tiba. 
Becak, seperti loceng sebuah bas dan
bau speaker dari surau di selekohan. 
Daun jatuh bagai layar sekeping kapal teduh. 
Bau laut dan hujan turun perlahan-lahan…

Tapi ada kemarau dalam hatiku!

Tahukah kau perkara yang paling sunyi ketika
musim kemarau adalah sekaki payung yang dilupakan?


Zayd,

Aku telah berkenalan dengannya di sudut sebuah perpustakaan.  Dia adalah wanita mulia.  Akan abadi sebuah petang yang kusimpan dalam ingatan, ketika dia melintas dan membahagi senyum ke dalam tiap jiwa yang sempat memasang mata menjadi sebuah taswir. Tidak ada satu rijal yang akan bisa menemukan definisi senyum itu dalam apa-apa kamus.  Tak akan dapat kucetak bunyi tapak kakinya dalam apa-apa bahasa.  Dia seperti rahmat yang mempunyai mata dan telinga, kerudung dan hidung.  Dia adalah kepala sebuah erti, dia adalah definisi yang memiliki perkataannya sendiri.

Tapi di corazón, waktu berdetak seperti Aran –  disana Kami sempat mencipta puluhan kenangan menjadi sebuah kerusi, sambil tertegun bersandar menunggu masa menjadi dewasa. 

Mungkinkah hari ini adalah hari yang kutakuti, Zayd? Ketika jejaran masa berkeputusan menjadi tua sebelum sempat dewasa – lalu memisahkan sepasang jiwa menjadi dua manusia yang serba biasa.


30/09/2016

ن.ا

1) Kelmarin kita bertemu dalam mimpi
Kau memelukku erat; luka-lukaku tak lagi mengalir
Tembok yang menjadi perantaraan persahabatan roboh
berdiri menjadi tugu cinta abadi
Kita tak lagi malu berbahasa hati;
Aku ada untukmu, kau juga begitu

2) Hari-hari yang berlalu aku membacakan bahasa hatiku
Kau menjadi tukang menyulam kenangan rindu
Katamu, ini adalah hadiah untuk dikenang pada hari-hari tua
Semoga kita tak akan berderaian di bawah langit menua
Kau berkata

3) Hari ini, pagiku tak lagi menerima kucupan darimu
Aku ingin membelaimu sekali lagi sayang
Buat kali terakhir, aku ingin sekali merasa sentuhanmu
mendengar kata-katamu, tenggelam dalam ketawamu
Atau berpimpinan  di bawah lampu-lampu pasar
seperti hari-hari yang kita pernah tempuh.