17/04/2017

Surat-surat

I wandered lonely as a cloud
That floats on high o'er vales and hills,
When all at once I saw a crowd,
A host, of golden daffodils;
Beside the lake, beneath the trees,
Fluttering and dancing in the breeze.

― William Wordsworth, I Wander’d Lonely as a Cloud




Melihatnya: 
Muzikmu seperti bunyi yang damai.  Seperti alir sungai yang lebih bising dalam musim hujan yang bersuara.  Kau menggelarnya sebuah ketenangan yang turun merusuh, seperti sehelai pena yang majnun menulis puisi.  

Pemandangan: 
Dan dari satu sudut, Bede BD5 menjadi perjamuan mata di hujung langit.  Kita seolah-olah berada di sepuluh abad yang lalu, ketika buku-buku mempunyai bau kulit kuda, atau ketika serenade mempunyai nilai yang sama tara denganseuncang emas.  

Engkau: 
Dari tepi jalan laluan ke cafĂ©  kulihat pantulanmu di setiap yang berkaca,  kau dengan gaun merah yang baru, dan senyum yang lebih biru dari hari senja – hari-hari akan kutanyakan tentang harimu: ‘how are you today?’

Pertanyaan: 
‘Engkau mempertanyakan soalan itu kepadaku hari-hari tanpa bosan, dan aku akan selalu memberi jawapan yang sama – my day is fine as everyday.  Ini adalah jawapan hari kelmarin.  Esok juga akan kuberikan jawapan yang sama.  Apa kau tidak lelah?’

R: 
Sebenarnya aku tidak tahu cara yang lebih ikhlas untuk mencintaimu, selain bertanya khabarmu setiap hari.

3 comments:

Anonymous said...

(Menjawab) Surat-surat (Dafodil)

I wandered lonely as a cloud
That floats on high o'er vales and hills,
When all at once I saw a crowd,
A host, of golden daffodils;
Beside the lake, beneath the trees,
Fluttering and dancing in the breeze.

― William Wordsworth, I Wander’d Lonely as a Cloud

Memandangnya:
Deru angin berbisik dalam jenuh dan mengeluh kerana harus menghantar rajukmu begitu jauh. Rayuan debu kontang dari kemarau nan panjang penuh harap, takkah mampu ia mewujudkan sebarang ingin pada titis air yang kian menguap agar tidak lenyap? Aku mengelarnya orang cengeng yang keji, yang sengaja menempoh lorong sunyi supaya kelak muncul segala pujuk dan puji.

Keadaan:
Orang selalu menggelar dirinya dengan segala buruk sikap dan rupa. Seolah-olah itu tabiat merendah diri paling mulia pada sang pengembara yang tak punya apa-apa. Berabad-abad tak ada yang sedar bahawa itulah perangai jelik yang amat pelik. Berusaha meletakkan diri paling bawah sebagai hamba keadaan tak lain hanyalah sebuah kesombongan.

Aku:
Di padang luas terbentang, kelopak dafodil mengepak riang dalam tari pengakuan diri. “Lihatlah kami yang kembang ini, mewarisi fitrah Narkisus sejati.” Semakin berjarak awan sepi merajuk pergi, biru langit terbuka luas membalas senyum dengan hati ikhlas. Lantas, bilah-bilah emas sang suria pun berteriak penuh galak: Aduhai! Wahai manis yang manis! Bagaimanakah harimu hari ini?

Jawapan:
Aku menunggu pertanyaanmu yang akan tiba suatu hari nanti. Tanpa ada rasa putus harap, patah hati atau segera ingin mati. Aku akan terus bersedia, walaupun tanpa jawapan yang khusus untuk sebarang tanya. Jawapan itu akan datang tiba-tiba, tak terjangka, seperti kehadiranmu yang belum tentu ada. Penantian ini adalah permulaan kepada segala permulaan. Besok lusa, akan kutunggu jua. Dan aku tidak akan mengalah atau berasa lelah.

H:
Tak ada lain yang lebih murni daripada kata-kata pendekar wuxia: “Kesungguhan dapat memecahkan batu, kesetiaan dapat mengalahkan waktu.” Tak ada yang lebih aneh pada niat nan satu dalam menunggumu: Agar kau segera kembali membangun pohon rimbun di langit luas dan menurunkan lebat hujan yang deras di atas ubun-ubun kepalaku.

Sementara itu, ada kumbang sesat taman yang bertanya pada dafodil tetangga perihal suatu jalan kembara:

"Tell me, gentle traveler, thou
Who hast wandered far and wide,
Seen the sweetest roses blow,
And the brightest rivers glide;
Say, of all thine eyes have seen,
Which the fairest land has been?
...

- Rumi, The Fairest Land

elham rebel said...

terima kasih saudara/i. saya tak mampu bagi balasan yang lebih baik untuk saudara/i. teruslah berhubung dan memberi inspirasi.

PAK.SABARUDDIN DI PADANG said...

Hal yang tidak pernah terbayankan kini jadi kenyataan kepada keluargaku,,,kusus untuk AKI SANTOJOYO kami ucapkan banyak terimakasih yang sebesar-besarnya kepada aki. karena berkat bantuannya alhamdulillah keluarga kami bisa lepas dari hutang dan masalah, karena nomor “GAIB” untuk pasang togel, hasil ritual AKI SANTOJOYO memang benar-bener merubah nasib kami hanya sekejap,dan disitulah aku berkesempatan kumpulkan uang untuk buka usaha kembali,karena rumah juga sudah disita bank,,warung makan juga sudah bangkrut,,tapi itu semua aku masih tetap bertahan hidup dengan anak istriku,,walau cuma ngontrak tapi aku tetap bersabar dan akhirnya AKI SANTOJOYO lah yang bisa merubah nasib kami..maka dari itu AKI SANTOJOYO orang paling bersejarah di keluargaku…!!! jadi kepada teman-teman yang di lilit hutang dan ingin merubah nasib seperti saya silahkan hub AKI SANTOJOYO di nomor:085211599919 atau silahkan klik ANGKA RITUAL dan dengan penuh harapan yakin dan percaya insya allah apa yang anda ingingkan pasti tercapai.