26/03/2013

Katil


Berbaring direntangan kenangan
Berbantalkan gumpal dawai emosi
Tiada lagi hati mengharum bungaan
Memori meneman berdiri disisi.


6 comments:

Adam Manson said...

dawai biasa tidak mengapa,
andai dawai berduri,
mencucuk -- tajam; luka.

punah memori.

Azhar Ibrahim said...

Ku tenung siling dalam kesamaran kalimantang -
- koridor yang menyepi,
Selarut malam yang semakin pagi,
Melewati dinihari,
Lenaku tersia lagi.

Di ruang kamar ini,
Detik-detik terbuang pergi,
Kerna resah hati,
Memaksa mata terus celik -
- namun digenangi,
Hujan air mata pada satu tragedi,
Saat dikau berlalu dari sisi.

Di atas tilam yang menipis,
Sepertinya hati aku yang dikikis-kikis,
Dan lencun dek jurai-jurai tangis hati;
Aku mati.

Pistol Kosong @ Elham Rebel said...

perghhh!

keron said...

ini bikin aku rindu katil empuk kat rumah ni. haih.

ghost writer said...

puisi orang-orang gering

Azhar Ibrahim said...

Maaflah Ghost, hanya mampu bikin puisi gering kerana hati pun gering. Masih belum mampu hidup sehidup-hidupnya.