11/09/2013

Rindu adalah embun yang lebih larut dari malam, katamu.

Hujan turun begitu renyai mengisi mangkuk anganku.  Petang pun muncul malu dengan matari yang tak datang menjemputnya.  Ah, ada banyak meja yang menempati kopi, dan kerusi-kerusi yang sekadar diisi laki-laki dan perempuan yang banyak bercerita perihal mimpi. Aku melihat tanah yang kelabu itu, segan disentuh peluk hujan yang ikhlas.  Bunga anggerik yang ditanam pekebun kelmarin mula melahirkan tuntas. Tidak lupa beberapa ekor burung yang singgah di langitku bercerita tentang awan yang pernah dipegang Sulaiman.

Di tingkapku, aku melihat banyak kejadian yang indah namun sering merasa kehilangan. keriuk almari dimakan anai-anai mengejutkanku bahawa tiap yang indah pasti diburu kebutuhan. Sering saja tanggapan bahawa kecantikan tak kekal malah lebih pendek dari umur bersila di langit-langit kepalaku.

Melihat kanak-kanak yang girang membuat aku ingin bertanya ; apakah keperluan yang perlu ada untuk mencukupkan kebahagiaan? Pun soalan yang sama berlegar ketika melihat paman kaya sibuk membasuh mobil tinggi hitam metalik.

Ketika menuliskan beberapa persoalan ini, aku sendiri sedang mempersiapkan jawapan bagi pertanyaan-pertanyaan ini :  hari ku tak istimewa hingga matari yang terbit merekah pada senda guraumu yang petang.

3 comments:

Violet Sofia said...

so beautifullll.... great! seriously, iklas, i love it. =)

elham rebel said...

Terima kasih :D

elham rebel said...
This comment has been removed by the author.