11/06/2015

Bunga Api Pop Dalam Hati

Bagai bunga api pop,
melihat matamu,
mendingin sengat matahari,
menghangat hujan malam,
dunia terasa mengayun.

Bagai bunga api pop,
melihat senyummu,
menenang jiwaku,
melenyap segala tekanan,
mendamai setiap kesusahan.

Bagai bunga api pop,
rapian rambutmu,
mengukir senyumanku,
Bahagia ini, kini infiniti.

Aku masih keterapungan.

NoraZen
11 JUN 2015

09/06/2015

Sejumlah Kata-kata Dan Ratapan Biola



Angka-angka di jam dinding itu lebih tahu cara untuk maju. Sejumlah ingatan tertanda di waktu-waktu tertentu. Kita akan lupa namun di waktu-waktu tertentu, musim seakan berjalan lebih perlahan. Ingatan yang sedayanya dihindari tiba-tiba hinggap di jendela dingin yang sudah lama bisu. Kita selalu ingin membuka jendela itu seluasnya atas alasan ingin menikmati angin di musim ini. Tak ada yang lebih dingin dari musim yang pudar dan buntu. Seperti pohon-pohon yang tetap berdiri dalam dingin yang menghentam ini, seperti itu seharusnya orang-orang yang terluka belajar menjadi teguh.

Angka-angka di jam dinding sudah tahu tentang hari dan waktu yang mendatang. Seperti mana bunga-bunga akan tumbuh kembali di musim yang berkilau emas itu nanti, seperti itu kita menanggalkan kertas kalender yang telah ditandai dengan balada yang terluka; hari demi hari.


Kita pun tiba akhirnya di musim yang berkilau itu. Seperti nafas yang pernah meringkuk dalam koma, sejumlah ingatan yang pudar mencatat kelibatnya di jendela. Kenangan, seperti seorang kekasih yang setia, tidak akan pantas melepaskan. Ia menyentuh bekas luka, menciumnya dan berkata, "Aku pernah ada, dan punya alasan untuk akhirnya tiada." Orang-orang terluka, seperti kita, akan selalu tahu bagaimana caranya untuk menghadapi sejumlah kenangan yang bebas di udara. Kerana kita sudah begitu akrab dengan takungan airmata di telapak tangan yang ditinggalkan ini.


Karl Agan
Jun 2015

07/06/2015

Kau dan Kelewatanku

Pada setiap kau didekatku
adalah debar jantung yang tak terhitung
membekukan kaki dan hujung jari.

Pada setiap pertemuan anak mata
adalah harapan seperti purnama
binar yang terang mengambang abadi.

Pada setiap kata-kata sederhana
adalah kotaraya dipenuhi cinta
sempurna mimpiku di dalamnya.

Percayakah bahawa
Doa-doaku hari itu telah begitu hampir kepadamu?
Kemudian dihalang Tuhan,
katanya ada doa
yang telah terlebih dahulu memelukmu.

05/06/2015

Lewat Musim Semi


Air mata di musim semi
jatuh pada kelopak bunga
meresap lalu di tangkai rasa
dingin disambut belai hawa
ketika mata masih belum terbuka

Tunas di musim semi
separuh kuncup separuh mekar
dilewat unggas-unggas
separuh mabuk separuh liar
melakar detik keliru mungkin indah

Musim semi terakhir
embun melabuhkan tangis bongsu
helai kertas, debu dan tanah ingkar; kering
sayang musim-musim sekarang
terus kemarau tanpa pesan.

03/06/2015

Pohon Kenangan

Di bawah pohon samanea
kaumelabuhkan punggung
pada akar-akar tua.

Dedaun samanea yang lebat
membuatkan cahya matari senja
begitu kecewa untuk menjamah kulitmu.

Kau ambil sebilah belati dalam simpananku;
Kau ukirkan nama-nama
pada tubuh kasar samanea.

Lantas kaumengucupku di pipi
hingga lembut bibirmu
membuatku benar-benar cair.

Di bawah pohon samanea yang rendang
adalah singgahan pertama kita
;sebelum camar dan pelayar
mengenal malam.